Kamis, 24 April 2008

Sumur itu nyaris membunuhku

Suatu hari saat aku kelas 1 SD

Bangun pagi, terus berlomba ke kali bersama bapak, dan mas Nanang. Lomba mandi dengan si Mas, yang menang adalah yang cepat selesai mandi, sikat gigi dan bersih. Kenapa mesti lomba? Karena yang cepat selesai berhak pulang dengan memakai sarung yang dikenakan bapak pas berangkat ke kali (saat itu rasanya bangga sekali….). Tu sarung bermanfaat banget untuk mengurangi rasa dingin abis berendam di kali.
Suatu hari aku kalah, kehilangan sarung dan berjalan paling belakang. Karena malamnya hujan, maka jalan setapak yang melintasi lembah untuk menuju ke kompleks perkebunan tempat kami tinggal , menjadi begitu licin. Aku tergelincir dan kotorlah sandal aku. Yah…daripada kotor lagi tiba dirumah maka aku bergegas ke sumur yang ada di dasar lembah yang setiap pagi selalu dipenuhi oleh ibu mencuci yang mencuci pakaian dan bapak-bapak yang mengambil air bersih. Pagi itu Cuma ada kak susi, tetangga sebelah rumahku. Air sumur tidak terlalu jauh dari bibir sumur dan sumur itu tanpa pembatas yang berarti. Aku pinjam gayung kak susi, dan berusaha mengambil air dengan gayung itu, tapi….gubrak..byur……gak tau kenapa, tiba-tiba aku masuk sumur. Kak susi menjerit panic. Jarak dari sumur ke rumah terdekat sekitar 70 meter. Tapi karena kondisinya kami di dasar lembah sedang rumah di atas lembah, barangkali jeritan kak Susi tak terdengar dari atas.
Cukup lama aku di dalam sumur, menggapai-gapai, sementara kak Susi bingung tak tahu mau berbuat apa. Maklumlah aku taksir sih umurnya baru sekitar 13 tahunan (sekarang sih naksir umurnya, kalo dulu juga gak tau hihihihihi). Akhirnya sang penolongpun datang, seorang Bapak yang aku tak tau siapa namanya. Detil peristiwa patriotic itu aku sudah lupa. Yang pasti hari ini aku bisa duduk disini, didepan PC menceritakan kembali kisah ini.

Sejak itu, aku trauma. Phobia dengan sumur dan ketinggian. Aku berupaya menghadapi phobiaku terhadap ketinggian, tapi sepertinya belum berhasil. Melihat-lihat panorama kota medan dari lantai 6 parkir Thamrin plaza saja aku dah gak berani. Tak usah setinggi itu, naik tangga untuk ganti bohlam aja, kakiku gemetaran. Terkadang aku paksakan juga.
Mulai dari yang tidak terlalu tinggi, tapi susah ya….ternyata…

0 komentar: