Kamis, 24 April 2008

Telat lagi….telat lagi….

Suatu hari saat aku kelas 6

Hari itu aku terlambat lagi. Untungnya Pak Regar belum masuk. Jadi aku bisa leluasa masuk kelas tanpa takut kena setrap. Aku adalah murid yang paling sering terlambat. Kenapa? Karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum pergi sekolah.
Hmmm..kisah kebanyakan orang susah yang mengejar cita-cita… (hihihihi) Sebenarnya, kalau dibilang susah, ortu aku bukanlah termasuk di jajaran orang susah di jaman itu, tapi ortu aku tidak mendidik anaknya seperti kebanyakan orangtua. Setiap hendak berangkat sekolah, aku dan mas harus menyiapkan es loli yang akan dititipkan di beberapa kedai/warung yang berada 3 tempat sepanjang perjalanan ke sekolah. Setelah mas lulus SD, dan tinggal dengan nenek, otomatis tugas yang selama ini dibagi dua menjadi tanggung jawabku seluruhnya. Sebenarnya sih, sebelumnya tugas itu dilakukan oleh orang suruhan ibu, tapi ibu bilang dia suka nilep setoran. Alhasil, akulah yang menggantikan orang itu.
Aku berangkat lebih pagi dari teman teman aku, tapi tiba di sekolah selalu yang terakhir, itu karena aku harus berhenti di 3 tempat itu. Waktu itu, aku sering menggerutu, dan iri melihat teman-temanku bisa jalan melenggang tanpa beban. Pernah suati hari, aku menangis, karena hari itu ujian, sedangkan aku tetap mesti singgah di 3 tempat itu. Aku tak pernah berani protes kepada ibuku.

Cerita yang sama berulang lagi saat aku SMA dan Kuliah.

Di SMA, aku tak akan pernah bisa beli baju dengan hanya minta uang dari orang tuaku. Biasanya ibu selalu memberiku uang dalam bentuk mentah (yang benar-benar mentah). Uang itu bisa saja masih berbentuk buah kopi, yang mesti aku kuliti dulu baru bisa dijual dan dapat uang. Atau buah melinjo atau apalah yang harus dijual dulu baru bisa dapat uang.
Saat kuliah, ibu tidak bisa memberikan mentahnya lagi, karena sudah begitu besar biaya bulanan yang harus dikeluarkan untuk aku dan adik-adikku, jadi aku harus bisa mencari sendiri kekurangan uang bulanan dan biaya untuk koass yang sangat mencekik leher itu. Mulai dari jadi tukang kredit hingga tukang goreng pisang pernah aku jalani.
Tapi profesi yang paling membuat aku bangga adalah jadi tukang terjemahan di kampus. Setidaknya dengan profesi sampingan itu, biaya kuliah banyak terbantu, dan bisa bantu temen temen dengan biaya yang sangat bisa mereka jangkau.
Saat kuliah itulah aku baru menyadari, manfaat didikan yang aku dapat saat SD itu. Aku tak lagi mengenal rasa malu atau gengsi karena mengerjakan hal-hal yang dianggap orang sepele, yang penting aku bisa lulus dari FKG. Aku jadi lebih kuat dan tabah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan aku jadi lebih bangga dengan apa yang aku miliki, tidak terlalu bagus memang, dan tidak bermerk, tapi itulah hasil keringatku. Tidak merengek, tidak minta ke orang tua.
Tapi begitupun, aku sangat tidak ingin anak-anak aku mengalami apa yang aku alami. Walaupun mereka harus dididik memiliki mental yang kuat. Tapi masih banyak cara untuk mencapai itu tanpa mesti telat ke sekolah dan telat wisuda…

0 komentar: