Kamis, 2008 September 11

Suster Oh..Suster


Tulisan ini terilhami dari sebuah postingan di Milist aku. Postingan itu berisi tentang ke-alergi-an sang penulis terhadap profesi dokter, terutama dokter lokal. Pokok dari postingan itu adalah kekaguman sang penulis terhadap pelayanan Rumah Sakit di sebuah Rumah Sakit yang cukup terkenal di Malaysia. Penulis menggambarkan bagaimana suster melayani pasiennya, dan hebatnya pelayanan di rumah sakit itu. Salahkah itu? Gak ada yang salah di situ. Sang penulis tetap punya hak untuk menulis apapun yang dikehendakinya. Namanya juga Milist. Semua orang bebas berpendapat. Cuma beberapa penekanan tentang hebatnya pelayanan yang diberikan suster luar itu, sungguh membuat aku sedih.Memang beberapa fakta yang dikatakan temanku itu ada benarnya. Tapi bagi aku sih,betapapun, seorang suster juga manusia.


Jujur aja, jauh di lubuk hati yang terdalam, aku sangat salut dengan profesi yang satu ini. Bayangin aja, temen aku yang kerja di klinik kecil, cuma digaji 550 ribu perak dan harus kerja dari jam 8 pagi sampe jam 10 malem, 4 kali dalam seminggu, ngadepin pasien yang punya 1001 kelakuan, masih tetap sabar dan bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ada juga seorang teman suster yang terpaksa melayani persalinan karena tidak adanya bidan di lokasi itu. Menurutnya, dia terpaksa daripada pasien ditolong oleh dukun beranak.

Belum lagi kalau aku lihat bidan PTT yang di pedalaman sana, dengan gaji yang cuma 800 ribu (dulu, sekarang barangkali untuk terpencil sekitar 1,3 juta), masih mau membuka polindesnya 24 jam. Masih mau dipanggil tengah malam buta dan pagi yang dingin untuk membantu persalinan, sudahlah dipanggilnya tengah malam pake acara naik rakit atau perahu dayung lagi. Mereka tetap berangkat jika ada panggilan tanpa memikirkan kesanggupan pasien untuk membayar atas jasa yang telah mereka berikan. Tak jarang mereka dibayar dengan beras.

Aku pernah diajak seorang bidan desa, untuk melihat kondisi pasien gizi buruk. Dengan semangatnya dan karena masalah itu juga tanggung jawabku, aku sanggupi untuk mendatangi pasien tersebut. Aku kira jalan 1 kilo meter dengan jalan yang lurus, ternyata sodara-sodara, jalannya naik turun dan untuk mencapai lokasi itu lebih jauh dari yang kukira. Gitu nyampe lagi di rumah si BiDes, dengkul aku lemes. Tapi itulah yang dihadapi sang BiDes setiap hari. Dan kunjungan hari itu masih terbilang dekat menurut si BiDes, masih banyak lagi yang lebih jauh dan lokasi yang lebih sukar dari yang kami kunjungi itu.

Ada lagi cerita suster yang meninggal di lokasi tugas karena terpencilnya lokasi dan terbatasnya sarana untuk membawanya ke instansi kesehatan yang lebih baik. Waduh, banyak cerita yang menyentuh tentang profesi ini yang aku lihat sendiri saat aku PTT di sebuah daerah terpencil di Sumatra Barat. Apa yang aku alami itu sungguh membuka mataku tentang arti sebuah pengabdian.

Jadi buat aku profesi suster dan bidan itu sangatlah mulia. Mungkin pandangan temen aku itu jadi sangat buruk, karena yang dilihatnya adalah suster yang bekerja di instansi kesehatan di kota, yang bekerja berdasarkan job description-nya. Jadi mereka tetap aja duduk duduk dan ngobrol, karena melayani pasien di loket kartu atau di apotik bukanlah tugas mereka, walaupun banyak pasien yang sedang mengantri. Suatu hal yang tidak terjadi di Malalak, karena saat itu kami hanya ber delapan di Puskesmas Induk. Jadi di saat saat tertentu, kepala puskesmas tetap harus merangkap menjadi petugas loket, karena tidak ada tenaga.

9 komentar:

Hellen mengatakan...

Saya juga hidup dalam keluarga besar yang berprofesi demikian, saya salut dengan profesi ini karena melihat lansung bagaimana kakak saya menghabiskan waktunya untuk pasien2nya, baik di rumah sakit maupun di rumah..terkadang memang ada sedikit pengeluhan, mungkin karena rasa lelah fisik, yah... kurang istirahat... Tapi tetap bersemangat.

cantigi mengatakan...

orang2 hebat dg dedikasi profesi luar biasa. salut.. ^_^

acy mengatakan...

gue rasa mereka adalah orang2x hebat yang patut kita kagumi pengorbanannya, kalo bukan karena mereka negeri ini juga nggak bakal maju :)

Isnuyasha mengatakan...

pekerjaan yang dilakukan dari "hati" dapat dilihat dengan perjuangan yang dilakukan, sekecil apapun perannya, itu akan dilakukan dengan sepenuh tenaga dan ikhlas ^^. Salaam

cantigi™ mengatakan...

selamat idul fitri 1429H, mohon maaf lahir & bathin yaaa.. ^_^

Masciput mengatakan...

aku dulu pas sakit db, aku dibuat percobaan ama suster yang baru magang, masang infus harus pindah2 selama 3-4 kali, baru bisa!

dede mengatakan...

Dihari yang fitrah ini izinkanlah Recipe4free.blogspot.com mengucapkan, Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir batin, mohon dimaafkan segala khilaf dan dosa baik yang terasa maupun tidak. Semoga Allah Swt., menerima amal ibadah kita, selama bulan Ramadhan, kita selalu di beri nikmat iman, kesehatan, umur panjang dan rizki yang berlimpah.… Amien!

Tamrin-Next CEO mengatakan...

SAlut salut.... hidup suster! (gak penting.com)

Judith mengatakan...

Acungkan jempol deh buat para Suster, mereka bener2 sabar dalam menangani pasien. Walau kadang mereka capek dan jengkel tapi mereka nggak memperlihatkan langsung. He hee.. aku tau itu soalnya dulu aku termasuk pasien paling rewel :D