
Lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku disamudra hidupku
kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku
reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
Lirik di atas adalah lirik lagu Lentera Jiwa yang membuka acara talkshow Kick Andy, episode Lentera Jiwa, yang menampilkan orang orang yang profesional di bidangnya dengan latar belakang ilmu yang berbeda dengan bidang pekerjaan yang ditekuni. Mereka adalah orang orang yang mengerjakan sesuatu karena memang menyukai bidang yang dikerjakan, walau terkadang sangat jauh dari yang diharapkan ortunya dan jadi berseberangan dengan ortu.
Aku jadi inget suamiku, yang dulu sempet bikin bingung ortunya. Nggak tau maunya apa. Ditawarin jadi tenaga honorer di sebuah instansi pemerintah gak mau, ditawari honor di BUMN gak mau, abang malah bikin ladang kecil untuk menanam kacang hijau, dan nongkrong di depan kompienya tiap malem untuk belajar visual basic. Setelah tahun 2000 apa yang dilakukan abang baru nampak hasilnya, tawaran mulai datang untuk ngajar di beberapa tempat les, dan akhirnya tahun 2003 diminta untuk bergabung dengan sebuah perusahaan IT Indonesia Belanda, tanpa melamar Booo…..Sekarang aku lihat dia begitu menikmati pekerjaannya sebagai seorang senior programmer.
Beda dengan aku. Aku gak pernah terbayang bakal jadi dokter gigi. Saat awal kuliah aku ngerasa seperti tersesat. Mempelajari sesuatu yang aku tidak sukai. Menghapal kata kata dalam bahasa latin. Satu tonjolan kecil saja harus diingat letak dan namanya. Ntah untuk apa. Saat semester 2 sempat terpikir untuk hengkang dari FKG, nyoba UMPTN lagi cari jurusan lain yang lebih sesuai dengan kepribadian aku. Tapi nyatanya kuliah tetap aku jalani, hingga akhirnya tamat dengan nilai yang tidak bisa dikatakan buruk walau pun tidaklah terlalu memuaskan.
Setelah tamat, gelar DRG sudah ditangan, namun masih ada satu hal yang mengganjal, aku tidak suka dipanggil dengan ‘dokter’. Seingat aku hanya satu pasien aku yang manggil aku dengan ‘dokter’ lainnya panggil aku dengan ‘poppi’, mbak, kak, dan ibu. Ntah kenapa aku gak suka, padahal butuh 7 tahun untuk dapat panggilan itu. Tapi itulah aku. Aku hanyalah seseorang yang memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu sehingga menjadi sedikit lebih mengerti tentang gigi daripada orang lain.
Sebagian besar teman teman drg-ku adalah PNS. Sedangkan aku jangan kan jadi PNS, testnya aja aku belum pernah. Banyak pertimbangan untuk jadi PNS, anak anak terutama. Aku pernah PTT, dan gak enak banget rasanya ninggalin anak dengan orang lain yang bukan sodara kita. Aku gak mau kalau jadi PNS nanti gak bisa profesional karena pikiran terpecah antara ngurus keluarga dan pekerjaan. Jadi aku putusin gak bekerja, praktek aja. Tahun lalu aku nyoba bagi waktu untuk kerja disebuah klinik swasta, tapi setelah satu setengah tahun, aku evaluasi, apa yang sebenarnya aku cari, karena gak ada yang aku peroleh kecuali kepuasan dalam memberikan pertolongan pada pasien pasien jamsostek yang mendambakan pelayanan kesehatan gigi yang maksimal. Dan itu masih bisa aku lakukan dengan buka praktek di rumah.
Putusan ini aku pikir mengecewakan ortuku yang berharap aku bekerja tetap dan aku mengertilah bagaimana harapan mereka terhadap aku, tapi ini adalah hidupku, ini adalah pilihanku, setidaknya tidak menjadi PNS bukanlah suatu dosa, ya tho….
Meski jadi dokter gigi, tapi aku masih tetap memikirkan hal hal yang dulu semasa kuliah selalu ingin aku lakukan. Dagang, menjahit. Sempat terpikir untuk menyelesaikan lagi kursus menjahit yang dulu tak terselesaikan karena SK PTT aku keburu keluar. Trus aku bikin plank “TERIMA JAHITAN” dibawah plank praktek dokter gigi aku, hahahahahha….”Ni dokter gigi atau tukang jahit sih?” barangkali pertanyaan seperti itu bakal muncul di kepala pasien aku. Tapi niat untuk kursus lagi memang masih ada. Kayaknya asyik aja bisa keluar dari rutinitas menambal, dan mencabut gigi.
Back ke Lentera Jiwa, apakah aku telah menemukan yang aku ingin lakukan? Aku masih belum bisa jawab, karena sejak kecil aku terbiasa menjalani hidup yang telah disiapkan ortu buat aku (kecuali pasangan hidup, aku ikutin aja semua mau ortu). Apakah aku tersesat dalam rimba kehidupan? Aku juga gak tau. Apakah aku puas dengan apa yang sudah aku peroleh?Belum, masih banyak yang ingin aku lakukan. Apakah aku tidak suka jadi dokter gigi?Dalam arti profesionalisme, aku suka jadi dokter gigi, membantu orang membuat aku merasa berguna sebagai manusia, tetapi dalam arti sosial, aku tidak suka karena seorang dokter selalu dipandang ‘lebih’ dan menjadi harus tampil lebih di depan publik, dan itu bukan aku banget. Apa sih yang sebenarnya aku cari? Bukan mencari apa apa, aku hanya ingin jadi diri sendiri, sesuatu yang sangat sulit untuk ditemukan ditengah begitu banyak harapan pada diri seorang POPPY. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang membuat aku merasa bahagia, dihargai, disayangi dan berguna…..












